2026-10-22

Ayah Juga Bisa Depresi Setelah Bayi Lahir

Ayah Juga Bisa Depresi Setelah Bayi Lahir

Depresi setelah kelahiran bayi tidak hanya dialami ibu. Sebuah meta-analisis besar yang terbit di jurnal JAMA pada 2010 menemukan sekitar 10 persen ayah mengalami depresi pada masa kehamilan pasangan hingga tahun pertama setelah bayi lahir, dengan angka yang relatif lebih tinggi pada tiga sampai enam bulan setelah kelahiran [1].. Kondisi ini sering tidak dikenali, padahal bisa ditangani dan penting untuk kesehatan seluruh keluarga.

Mengapa Ayah Bisa Mengalami Depresi?

Kehadiran bayi membawa kebahagiaan, tetapi juga perubahan besar dalam waktu singkat. Banyak ayah menghadapi tekanan yang jarang dibicarakan:

Penelitian juga menunjukkan bahwa depresi pada ayah berkorelasi positif sedang dengan depresi pada ibu selama kehamilan hingga setahun setelah melahirkan [1]. Artinya, kesehatan mental keduanya saling terkait.

Sebuah studi di Filipina menemukan kadar testosteron pria cenderung menurun setelah menjadi ayah [2], namun studi ini tidak meneliti kaitannya dengan depresi. Perubahan ini wajar, tetapi kaitannya dengan depresi masih terus diteliti.

Tanda Depresi pada Ayah Baru

Depresi pada ayah sering tidak tampak sebagai kesedihan. Perhatikan tanda-tanda berikut:

Kelelahan di bulan-bulan awal memang wajar. Namun bila perasaan negatif menetap lebih dari dua minggu dan mengganggu kehidupan sehari-hari, itu tanda untuk mencari bantuan.

Dampaknya bagi Keluarga

Depresi pada ayah bukan hanya urusan pribadi. Ayah yang depresi bisa lebih sulit terlibat dalam pengasuhan dan lebih mudah berkonflik dengan pasangan. Sebuah studi kohort besar di Inggris menemukan bahwa depresi ayah pada masa awal setelah kelahiran berkaitan dengan masalah emosi dan perilaku anak pada usia 3,5 tahun [3]. Karena depresi ayah berkaitan dengan kondisi keluarga dan perkembangan anak, penanganannya penting bagi ayah sekaligus bagi ibu dan anak. Depresi dapat ditangani, dan dengan dukungan serta penanganan yang tepat, banyak ayah bisa kembali terlibat aktif dalam keluarga.

Peran Pasangan dan Keluarga

Pasangan dan keluarga sering menjadi pihak pertama yang melihat perubahan pada ayah. Beberapa hal yang bisa dilakukan:

Mitos dan Fakta Seputar Depresi Ayah

Langkah yang Bisa Dilakukan

Kapan Harus ke Dokter?

Cari bantuan profesional bila:

Jika Anda atau pasangan memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup atau menyakiti diri sendiri maupun orang lain, segera cari pertolongan: datang ke IGD terdekat, hubungi 112, atau hubungi orang yang Anda percayai. Bantuan tersedia dan kondisi ini bisa ditangani.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ayah bisa mengalami baby blues atau depresi pascamelahirkan?

Ayah bisa mengalami depresi seputar kelahiran bayi; penelitian menunjukkan sekitar 10 persen ayah mengalaminya pada masa kehamilan pasangan hingga setahun setelah bayi lahir. Penelitian menunjukkan sekitar 10 persen ayah mengalami depresi pada masa kehamilan pasangan hingga setahun setelah bayi lahir.

Kapan depresi pada ayah paling sering terjadi?

Angkanya relatif lebih tinggi pada tiga sampai enam bulan setelah bayi lahir.

Apa tanda depresi pada ayah baru?

Mudah marah, menarik diri, merasa tidak terhubung dengan bayi, minum alkohol lebih banyak, dan kehilangan minat pada hal yang biasa disukai.

Apakah depresi ayah memengaruhi anak?

Depresi ayah dapat memengaruhi keterlibatan dalam pengasuhan dan suasana keluarga. Karena itu, penanganan sejak awal penting untuk ayah, ibu, dan anak.

Ke mana ayah bisa mencari bantuan?

Ayah bisa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Pendampingan bisa dilakukan sendiri maupun bersama pasangan.

Di MACHOS, psikolog dan psikiater mendampingi para ayah melewati masa transisi menjadi orang tua, secara profesional, rahasia, dan dengan memahami tekanan yang dihadapi pria. Jadwalkan konsultasi melalui WhatsApp MACHOS.

Referensi

  1. Paulson JF, Bazemore SD. Prenatal and postpartum depression in fathers and its association with maternal depression: a meta-analysis. JAMA. 2010;303(19):1961-9. doi:10.1001/jama.2010.605 · PubMed 20483973
  2. Gettler LT, McDade TW, Feranil AB, dkk. Longitudinal evidence that fatherhood decreases testosterone in human males. Proc Natl Acad Sci U S A. 2011;108(39):16194-9. doi:10.1073/pnas.1105403108 · PubMed 21911391
  3. Ramchandani P, Stein A, Evans J, dkk. Paternal depression in the postnatal period and child development: a prospective population study. Lancet. 2005;365(9478):2201-5. doi:10.1016/S0140-6736(05)66778-5 · PubMed 15978928
← Semua Artikel