2026-07-30

Stres Kronis dan Kurang Tidur Bisa Menurunkan Testosteron dan Gairah

Stres Kronis dan Kurang Tidur Bisa Menurunkan Testosteron dan Gairah

Stres yang berkepanjangan dan kurang tidur bisa menekan kadar testosteron serta menurunkan gairah seksual pria. Hormon stres seperti kortisol berinteraksi dengan sistem hormon reproduksi, dan penelitian menunjukkan tidur yang dipangkas selama seminggu saja sudah bisa menurunkan testosteron pada pria muda. Kabar baiknya, bila penyebab seperti stres atau kurang tidur ditangani, keluhan ini sering bisa membaik, dan terapi hormon bukan langkah pertama.

Bagaimana Stres Memengaruhi Hormon Pria?

Saat stres, tubuh mengaktifkan sistem tanggap darurat dan melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Dalam jangka pendek, reaksi ini berguna untuk menghadapi tekanan. Masalahnya muncul ketika stres berlangsung terus-menerus selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Aktivasi sistem stres tubuh (sumbu HPA) dapat menghambat fungsi reproduksi, baik melalui otak maupun langsung pada organ reproduksi seperti testis [1]. Dalam kondisi ini tubuh seolah memprioritaskan bertahan hidup dibanding fungsi reproduksi. Hasilnya bisa berupa gairah yang menurun, energi yang melemah, dan suasana hati yang mudah turun.

Kurang Tidur, Musuh Diam-Diam Testosteron

Kadar testosteron pria naik selama tidur dan biasanya paling tinggi pada pagi hari, sehingga tidur yang cukup ikut berperan menjaga kadarnya. Sebuah penelitian kecil terhadap 10 pria muda sehat yang terbit di jurnal JAMA pada 2011 menemukan bahwa tidur yang dibatasi sekitar lima jam per malam selama satu minggu menurunkan testosteron di siang hari sekitar 10 sampai 15 persen [2].

Bagi pekerja yang terbiasa lembur, begadang, atau bekerja dengan sistem sif, temuan ini penting. Kurang tidur yang dianggap biasa ternyata bisa ikut memengaruhi stamina, suasana hati, dan kehidupan seksual.

Burnout dan Kehidupan Seksual

Burnout adalah kelelahan fisik dan mental akibat tekanan kerja yang berkepanjangan. Pria yang mengalami burnout sering merasa kosong, sinis terhadap pekerjaan, dan kehabisan tenaga. Dampaknya merembet ke rumah:

Masalah seksual yang muncul kemudian menambah stres baru, sehingga membentuk lingkaran yang sulit diputus tanpa bantuan.

Tanda Testosteron Rendah yang Perlu Diwaspadai

Testosteron rendah bisa menimbulkan gejala yang mirip dengan stres biasa, sehingga sering terlewat. Beberapa tanda yang patut diperhatikan:

Karena gejala ini tumpang tindih dengan stres, depresi, dan kurang tidur, satu-satunya cara memastikannya adalah pemeriksaan darah yang dinilai dokter.

Mengapa Terapi Testosteron Tidak Boleh Dimulai Sendiri?

Ketika gairah turun, sebagian pria tergoda membeli suntikan atau gel testosteron tanpa pemeriksaan. Ini keputusan yang berisiko. Testosteron dari luar tubuh justru bisa menekan sinyal yang dibutuhkan testis untuk memproduksi sperma, sehingga produksi sperma menurun dan kesuburan terganggu [3].

Terapi hormon juga memiliki efek samping lain dan memerlukan pemantauan rutin, misalnya kadar testosteron, hematokrit (persentase sel darah merah dalam darah), dan risiko kanker prostat [4]. Karena itu, diagnosis testosteron rendah harus ditegakkan dari gejala dan hasil pemeriksaan darah pagi hari yang rendah secara konsisten, lalu dinilai dokter [4]. Terapi testosteron juga tidak dianjurkan bagi pria yang masih merencanakan anak dalam waktu dekat [3, 4].

Mitos dan Fakta Seputar Stres dan Testosteron

Langkah yang Bisa Dilakukan

Sebelum memikirkan obat, perbaiki fondasinya:

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan diri bila:

Jika tekanan hidup membuat Anda memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup atau menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan di IGD terdekat, hubungi 112, atau hubungi orang yang Anda percayai. Kondisi ini bisa ditangani.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah stres bisa menurunkan testosteron?

Bisa. Stres kronis dapat menghambat sistem hormon reproduksi, baik melalui otak maupun langsung pada testis, sehingga kadar testosteron bisa ikut menurun [1].

Berapa lama tidur yang baik untuk menjaga testosteron?

Orang dewasa umumnya dianjurkan tidur sedikitnya tujuh jam per malam, dan sebuah penelitian kecil menunjukkan tidur sekitar lima jam selama seminggu sudah menurunkan testosteron pada pria muda [2]. Sebuah penelitian kecil menunjukkan pembatasan tidur sekitar lima jam selama seminggu sudah menurunkan testosteron pada pria muda.

Bagaimana cara mengetahui testosteron rendah?

Melalui pemeriksaan darah pagi hari dalam keadaan puasa, yang diulang untuk memastikan hasilnya, lalu dinilai dokter bersama gejala yang Anda alami [4].

Apakah suntik testosteron membuat pria lebih subur?

Tidak. Testosteron dari luar justru dapat menekan produksi sperma, sehingga tidak dianjurkan bagi pria yang masih ingin memiliki anak [3, 4]. Bila testosteron rendah, dokter dapat memilih cara lain yang tetap menjaga kesuburan [3].

Apakah burnout bisa menyebabkan masalah ereksi?

Bisa berkaitan. Kelelahan fisik dan mental dapat menurunkan gairah dan ikut mengganggu ereksi, tetapi masalah ereksi juga bisa menjadi tanda penyakit lain seperti gangguan pembuluh darah atau diabetes, sehingga tetap perlu diperiksakan ke dokter.

Di MACHOS, dokter andrologi menilai keseimbangan hormon Anda, sementara psikolog dan psikiater membantu mengelola stres dan burnout, dalam satu tempat dan secara privat. Jadwalkan konsultasi melalui WhatsApp MACHOS.

Referensi

  1. Joseph DN, Whirledge S. Stress and the HPA Axis: Balancing Homeostasis and Fertility. Int J Mol Sci. 2017;18(10). doi:10.3390/ijms18102224 · PubMed 29064426
  2. Leproult R, Van Cauter E. Effect of 1 week of sleep restriction on testosterone levels in young healthy men. JAMA. 2011;305(21):2173-4. doi:10.1001/jama.2011.710 · PubMed 21632481
  3. Patel AS, Leong JY, Ramos L, dkk. Testosterone Is a Contraceptive and Should Not Be Used in Men Who Desire Fertility. World J Mens Health. 2019;37(1):45-54. doi:10.5534/wjmh.180036 · PubMed 30350483
  4. Bhasin S, Brito JP, Cunningham GR, dkk. Testosterone Therapy in Men With Hypogonadism: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline. J Clin Endocrinol Metab. 2018;103(5):1715-1744. doi:10.1210/jc.2018-00229 · PubMed 29562364
← All Articles